Majelis Qubro Pesantren Tanimulya Indah Bahas Mitos Bulan Safar: Meluruskan Akidah Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah

mq260726-unaoke

“ Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan..? ”

Tanimulya, 26 Juli 2026 – Dalam upaya memperkuat pemahaman akidah Islam yang lurus di tengah masyarakat, Pesantren Tanimulya Indah, salah satu Divisi Pendidikan Nonformal Yayasan Bina Tani Mulya Al Mujahidin (YBTMA), kembali menyelenggarakan Majelis Qubro yang menjadi agenda rutin bulanan. Kegiatan yang dilaksanakan setiap minggu keempat setiap bulan ini kembali dipenuhi antusiasme jamaah dari berbagai wilayah.

Majelis Qubro kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat, yaitu “Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan?”. Kajian disampaikan oleh para pengasuh Pesantren Tanimulya Indah, Ust. Ahmad Nailul Akmal dan Ust. Sandra Maulana, dengan mengupas secara mendalam berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat mengenai bulan Safar berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Majelis Ilmu yang Menyatukan Umat

Majelis Qubro merupakan salah satu program unggulan pembinaan keagamaan Pesantren Tanimulya Indah yang secara konsisten menghadirkan kajian Islam dengan materi yang aktual dan dibutuhkan masyarakat.

Setiap pelaksanaannya, majelis ini dihadiri oleh jamaah gabungan dari berbagai majelis taklim yang berada di Komplek Tanimulya Indah RW 15, serta diikuti oleh masyarakat dari luar RW 15, luar Desa Tanimulya, hingga jamaah dari berbagai wilayah sekitar yang secara istiqamah hadir untuk menuntut ilmu.

Kehadiran jamaah yang terus meningkat menjadi bukti bahwa semangat masyarakat dalam memperdalam ilmu agama serta mempererat ukhuwah Islamiyah semakin tumbuh dari waktu ke waktu.

Meluruskan Mitos Bulan Safar

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa keyakinan tentang bulan Safar sebagai bulan pembawa kesialan, musibah, atau kemadharatan merupakan kepercayaan yang berasal dari tradisi kaum Jahiliyah sebelum datangnya Islam.

Pada masa itu, sebagian masyarakat Arab meyakini bahwa bulan Safar identik dengan berbagai bencana sehingga mereka menghindari perjalanan, pernikahan, memulai usaha, ataupun aktivitas penting lainnya karena dianggap akan mendatangkan kesialan.

Islam datang untuk meluruskan keyakinan tersebut. Para pemateri menegaskan bahwa tidak ada satu pun bulan, hari, waktu, atau tempat yang secara hakikat mampu membawa keberuntungan maupun kesialan, kecuali semuanya berada dalam ketetapan Allah SWT.

Meyakini adanya kesialan pada bulan tertentu tanpa dasar syariat termasuk bentuk tathayyur (anggapan sial) yang dapat mengurangi bahkan merusak kemurnian tauhid apabila diyakini sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh selain kehendak Allah SWT.

Al-Qur’an Menjadi Landasan Pemahaman

Untuk memperkuat penjelasan tersebut, para pemateri mengajak jamaah kembali kepada petunjuk Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taghabun ayat 11:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat ini menegaskan bahwa setiap musibah yang terjadi merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT, bukan karena pengaruh bulan tertentu ataupun mitos yang berkembang di masyarakat.

Selanjutnya dijelaskan pula firman Allah SWT dalam QS. Asy-Syura ayat 30:

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu.”

Melalui ayat ini, jamaah diajak untuk melakukan muhasabah diri, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, bukan justru menyalahkan waktu, bulan, ataupun keadaan tertentu.

Menguatkan Tauhid dan Menepis Tradisi Jahiliyah

Dalam penyampaiannya, para ustaz menekankan bahwa seorang muslim wajib membangun keyakinannya berdasarkan dalil yang sahih, bukan mengikuti tradisi atau kepercayaan turun-temurun yang tidak memiliki landasan dalam Islam.

Kepercayaan bahwa bulan Safar membawa kesialan tidak hanya bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi juga dapat mengikis ketauhidan apabila diyakini bahwa selain Allah memiliki kekuasaan menentukan nasib manusia.

Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa bertawakal kepada Allah SWT, memperbanyak doa, memperkuat ikhtiar, serta menjalani setiap waktu dengan penuh optimisme dan keyakinan bahwa seluruh kebaikan maupun ujian berada dalam ketentuan-Nya.

Komitmen YBTMA dalam Pembinaan Keagamaan

Sebagai lembaga pendidikan Islam, Yayasan Bina Tani Mulya Al Mujahidin (YBTMA) tidak hanya berfokus pada pendidikan formal melalui unit-unit sekolah yang dimilikinya, tetapi juga terus mengembangkan pendidikan nonformal sebagai bagian dari dakwah dan pembinaan umat.

Melalui Pesantren Tanimulya Indah, YBTMA menghadirkan berbagai program pembelajaran Al-Qur’an, kajian keislaman, pembinaan akhlak, hingga Majelis Qubro yang terbuka bagi masyarakat luas.

Program ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen yayasan dalam menghadirkan pendidikan Islam yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membangun akidah yang benar, memperkuat karakter, serta menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat.

Harapan ke Depan

YBTMA berharap Majelis Qubro dapat terus menjadi ruang pembelajaran yang membawa manfaat bagi masyarakat, mempererat tali silaturahmi, serta menjadi sarana dakwah yang mampu meluruskan berbagai pemahaman yang belum sesuai dengan ajaran Islam.

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang hadir dan mengikuti kajian secara rutin, diharapkan akan lahir generasi muslim yang memiliki akidah yang kokoh, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan kepada seluruh jamaah, para asatiz, dan keluarga besar Yayasan Bina Tani Mulya Al Mujahidin (YBTMA), serta menjadikan setiap majelis ilmu sebagai jalan menuju bertambahnya iman, ilmu, dan amal saleh.

“Majelis ilmu adalah taman surga di dunia. Dengan memahami agama berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita menjaga kemurnian tauhid serta membangun kehidupan yang penuh keberkahan dan kebermanfaatan.”_ro